Mewujudkan Mimpi Foster The People : Sukses memuaskan penonton di Jakarta walau baru punya satu album. Betapa beruntungnya Foster The People. Berkat kesuksesan album perdana
Torches yang berisi lagu hit
"Pumped Up Kicks", pada pertengahan Februari grup asal
Los Angeles, Amerika Serikat, itu mendapat kesempatan tampil di Grammy Awards bersama
The Beach Boys, grup legendaris yang reuni dan salah satu idola Vokalis
Mark Foster. Sebelumnya, mereka tur keliling dunia, termasuk
Jakarta, Indonesia, dan tampil di hadapan ribuan penggemar dalam konser yang diselenggarakan 3 Ocean Live di Tennis Indoor. Menjelang penampilannya di Jakarta,
Rolling Stone berbincang dengan Foster.
Bagaimana rasanya saat Weezer membawakan lagu Anda?
Sangat keren, karena saya bertemu dengan
Rivers Cuomo di tahun 2002, 2003, tak lama setelah pindah ke L.A. Ada sebuah pesta yang sangat intim, hanya ada sekitar 10 orang yang nongkrong di rumah teman. Saya mengeluarkan gitar dan mulai memainkan beberapa lagu untuknya, lalu dia mengajarkan saya cara memainkan
"Say It Ain't So".
Anda yang meminta lagu itu?
Ya, karena itu salah satu lagu favorit saya sepanjang masa, tapi saya tak pernah bisa memainkannya seperti dia. Jadi dia mengajarkan caranya, lalu pada suatu pagi saya bangun tidur dan mendapat e-mail dengan Video YouTube berisi
Weezer membawakan
"Pumped Up Kicks" semalam sebelumnya. Gila, bagaimana semuanya bisa bersambung seperti itu.
Dari mana ide untuk menggabungkan lirik "Pumped Up Kicks" yang begitu gelap dengan musik yang begitu riang?
Entahlah. Lagu-lagu tertentu tertulis begitu saja. Saat mulai menulis lagu itu, niatnya akan menjadi lagu penyemangat yang memberi kepercayaan diri dan keberanian.
"Gun" adalah sebuah metafora. Tapi saat menulis baitnya, saya melakukannya dengan spontan dan sebuah cerita mengalir begitu saja. Itu membuatnya lebih spesifik, lebih kasar. Beberapa lagu tertulis begitu saja. Bait pertama di lagu itu adalah
Freestyle. Saya tidak menulis apa-apa di kertas, saya langsung bernyanyi dan keluar begitu saja, dan saya biarkan saja. Bait pertamanya dari sudut pandang orang ketiga, bait ketiga dari orang pertama.
Bagaimana dampak pekerjaan sebagai komponis musik iklan terhadap lagu-lagu Anda?
Itu mempertajam alat-alat yang saya punya di studio, karena saya melakukannya setiap hari, selama berjam-jam tiap hari. Saya punya studio dengan berbagai alat yang belum saya ketahui, lalu saya pelajari. Lebih banyak peralatan dibanding yang biasa saya pakai. Saya harus bekerja dengan berbagai aliran musik dan mencari tahu hal-hal yang belum terbiasa, seperti
Calypso, Brazilian Jazz, dan hal-hal lain yang harus saya kerjakan.
Belum lama ini The Black Keys menyatakan enggan mengizinkan lagu-lagu barunya di pakai untuk iklan, karena mereka sudah melakukannya di album sebelumnya ketika belum terkenal. Apa pendapat Anda soal itu?
Menurut saya itu cerdas. Persepsi adalah segalanya. Sekarang ada begitu banyak band dengan persepsi bahwa mereka sangat cerdas dan artistik tapi mereka buruk, lalu ada band yang sangat bagus dan berbakat, tapi persepsinya adalah mereka kurang keren, sehingga karier mereka memudar. Ada batas tipis antara membiarkan musik di pakai
merk yang kurang cocok dan membuatnya terlalu di ekspos.
Adele tidak memberi lisensi untuk lagu-lagunya, dan itu membuatnya tetap murni karena orang-orang tidak mengkaitkannya dengan
Wal-Mart, Target atau
Burger King. Itu hanya dia. Tapi dia bisa melakukan itu, karena dia sudah terkenal. Dalam kasus kami, saya setuju dengan
The Black Keys untuk album ini. Menyebarluaskan musik kami, dan memperkenalkan orang-orang dengan lagu-lagu selain
"Pumped Up Kicks" sangat penting bagi kami. Jadi bukan satu lagu saja yang di simak orang.
"Wah, mereka punya lagu lain yang juga bagus".
Apakah Anda khawatir album berikutnya akan gagal?
Tidak, sejujurnya. Beberapa bulan lalu saya takut dan gugup, dan sekarang saya bersemangat menghadapinya karena saya tahu bahwa:
Kami tidak akan merilis apa-apa kalau kami tidak menyukainya, hanya karena merasa harus merilis sesuatu. Lebih baik menghabiskan waktu lama dan merilis sesuatu yang hebat dari pada terburu-buru dan mengeluarkan album karena merasa harus. Kini kami juga punya lebih banyak sumber daya untuk mengerjakan album kedua di banding pada album pertama. Jadi akan lebih berevolusi dan lebih dewasa, dan akan mengembangkan selera musik orang dan persepsi mereka terhadap kami sebagai band.
Kapan Anda merasa telah mencapai keberhasilan?
Saya masih belum merasa begitu.
Bahkan setelah Weezer dan The Kooks membawakan lagu Anda?
Entahlah, mungkin ada sesuatu yang tak beres dengan diri saya, tapi saya masih belum merasa begitu. Saya merasa masih banyak yang harus kami buktikan, masih ada banyak yang mau saya ungkapkan lewat musik. Jika album kedua dan ketiga kami sangat sukses, mungkin saya akan bisa santai dan berkata,
"Baiklah". (Info dari Majalah Rolling Stone Indonesia. Edisi 83 : Maret 2012, Hal 19). Foto : www.facebook.com/fosterthepeople
0 Responses to “Foster The People”: